Translate

Senin, 04 Februari 2013

Wisata Goa, Menyusuri Jejak Legenda dan Sejarah Aceh

Aceh saat ini merupakan daerah di ujung Pulau Sumatra yang terus berbenah diri. Baik yang dilakukan oleh pemerintah ataupun pihak swasta dn dari masyarakat sendiri. Umtuk menarik wisatawan berbagai cara dilakukan untuk mengoptimalkan destinasi wisata di wilayahnya. Jika kemarin membicarakan wisata pantainya sekarang akan diulas tentang wisata goa yang tentunya tidak kalah menarik untuk dikunjungi.

Jika selama ini, Aceh hanya dikenal dengan wisata alam, bahari (pantai) dan wisata religious yang memang menjadi ikonnya Aceh, seperti halnya keagungan Masjid Raya Baiturrahman, selalu mengundang orang untuk datang ke ibukota Provinsi Aceh ini. Maka, tak salah jika pemerintah Provinsi Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh mengandalkan masjid yang penuh sejarah ini menjadi bagian utama dari pengembangan objek wisata spiritual di Asia Tenggara.

Pasca gempa dan tsunami 7 tahun silam, potensi wisata Aceh yang terbentuk dari hikmah sebuah bencana juga menjadi andalan daerah yang terletak di paling ujung pulau sumatera, Indonesia ini. Sehingga tak mengherankan, banyak orang yang datang ke Aceh selalu menyempatkan berbagai keajaiban yang terjadi pasca tsunami menjadi daerah yang "wajib" dikunjungi.

Namun dibalik itu semua, Aceh sebenarnya memiliki potensi wisata yang sangat menjanjikan jika mampu dikembangkan. Potensi ini berupa wisata Goa. Di Aceh ratusan goa baik berukuran kecil dan besar. Selama ini potensi wisata goa ini hanya dikelola secara bisa dibilang "seadanya". Sehingga banyak orang yang tidak tahu akan potensi wisata di perut bumi itu.

Wisata goa di Aceh sama saja berwisata jejak legenda sekaligus sejarah di Aceh. Banyak cerita rakyat yang melegenda tentang asal muasal dan keberadaan goa tersebut pada zaman dahulu. Bahkan banyak goa yang bernilai sejarah.

Berikut sejumlah goa yang melegenda di Aceh dan sebagian bernilai sejarah yang layak dikunjungi jika anda berkunjung ke provinsi berjuluk "Serambi Mekah" ini.

Goa Putri Pukes

Goa Putri Pukes adalah salah satu objek wisata di kabupaten Aceh Tengah. Satu ke unikan di goa ini ada patung yang diyakini warga secara turun temurun merupakan patung Putri Pukes yang menjadi batu, sehingga warga menamakan goa ini goa Puteri Pukes. Patung Putri Pukes ini mengeluarkan air mata. Konon ini terjadi karena dahulu kala orang yang menjadi patung tersebut tidak mengindahkan petuah orangtuanya (baca: Putri Pukes, Antara Legenda dan Sejarah). Kisah ini menjadi legenda di antara masyarakat sekitar. Benar atau tidak legenda Putri Pukes, sampai sekarang tidak ada yang tahu.

Selain hari libur, obyek wisata ini juga ramai dikunjungi pada hari-hari biasa. Goa Putri Pukes kini telah menjadi tempat wisata. Di dalam goa ada batu yang diyakini sebagai Putri Pukes ini juga ada kendi dan memiliki kursi batu serta alat pemotong kuno yang terbuat dari batu.

Seorang penjaga goa, Abdullah, mengungkapkan kalau batu tersebut semakin besar, karena terkadang batu itu menangis sehingga ada air yang keluar dari dalam batu. Disamping itu, ada sebuah sumur besar yang setiap tiga bulan air di sumur itu kering dan air tidak ada, jika ada air orang pintar akan datang untuk mengambil air. Sementara Kendi atau tempayan air yang telah menjadi batu pernah diambil orang, tetapi kembali lagi karena orang tersebut gelisah setelah mengambilnya.

Goa Loyang Koro

Masih di Aceh Tengah, Goa Loyang Koro (lubang kerbau-red) adalah salah satu objek wisata goa yang terletak di kaki Gunung Birahpanyang, sekitar 15 meter dari bibir pantai Danau Laut Tawar dengan kedalaman 20 meter. Goa Loyang Karo terletak di desa Toweren, Kecamatan Laut Tawar, hanya 7 Km dari Kota Takengon.

Menurut cerita dan catatan sejarah, goa ini dulunya adalah tempat bersembunyi Sultan Aceh dari kejaran tentara Belanda. Konon, goa ini dijadikan jalur lintas pera penggembala kambing dan kerbau yang membawa hewan ternaknya dari Takengon ke Isaq, Linge. Jalur ini digunakan untuk mengamankan hewan gembalaan dari santapan binatang buas yang kala itu jika menempuh jalan umum, masih diselimuti hutan lebat.

Suatu hari, saat para penggembala ini membawa hewan secara bersamaan dari pinggiran kota Danau laut Tawar dan Isaq, ditengah jalan di dalam goa mereka bertemu dan tak bisa saling menghindari sehingga terjadi kegaduhan yang menyebabkan runtuhnya dinding goa sehingga jalan tertutup dan tidak dapat dilewati lagi.

Goa Putri Ijo (Putri Hijau)

Goa Loyang Puteri Ijo ini memiliki luas arel sekitar 0,25 Ha yang terdapat di pinggiran Danau Laut Tawar, Aceh Tengah. Konon kisah ini berawal dari dua orang sedarah menikah dan awalnya si wanita ini tidak tau bahwa lelaki yang menikahi dia kakak kandungnya, lalu si wanita ini malu ketika tahu suaminya adalah kakak kandungya. Dan wanita itu mengubur dirinya sendiri di pinggir Danau Tawar, dan konon menjadi ular hijau yg di sebut "puteri ijo" yang besar seperti naga.

Goa Loyang Datu Merah Mege

Goa Loyang Datu Merah Mege adalah objek wisata yang berpanorama indah, tidak hanya menawarkan keindahannya saja tetapi juga legenda yang mengikutinya. Area objek wisata ini juga dilengkapi dengan tempat peristirahatan dan tempat duduk untuk menikmati air deras yang mengalir didasar Goa. Goa Loyang Datu Merah Mege terletak 26 km dari ibu kota Kabupaten Aceh Tengah.

Di Aceh Tengah juga terdapat sejumlah goa lagi, seperti Goa Loyang Datu dengan luas 6 Ha, Goa Loyang Kaming (1 Ha), Goa Loyang Moyang Prupi dan di Bener Meriah ada goa Loyang Seribu yang memiliki air terjun dengan luas sekitar 20 ha

Goa Muslimin

Goa ini terdapat di Kabupaten Aceh Selatan. Ini merupakan goa alami yang terletak di kaki sebuah bukit yang berada kira-kira 15 km dari pusat kota Tapak Tuan ke arah Blangpidie, Aceh Barat Daya (Abdya).

Goa ini terletak tidak jauh dari pinggir jalan besar. Jika hendak menuju ke daerah ini, dari pinggir jalan tersebut kita harus turun ke sebuah sungai yang cukup lebar dan berkerikil, namun masih bisa dilewati oleh mobil. Dengan menyusuri sungai sekitar 5 menit bisa sampai di kaki sebuah bukit yang berbatas dengan bibir kiri sungai.

Di dalam goa ini terdapat stalakmit yang berbentuk kulit harimau sehingga dinamakan batu harimau dengan warna mirip lorengnya raja hutan tersebut dengan warna hitam dan kuning keemasan. Di Aceh Selatan juga terdapat goa lain, seperti Goa Kalam, Goa Panton Bili, Goa Batu Meucanang, Goa Kalam memiliki luas 2 Ha, Goa Kelongsong dan Goa Pancang.

Goa Toejoh (Goa Tujuh)

Goa Tujuh atau lebih dikenal dengan sebutan guha Toejoh yang terletak dalam kawasan perbukitan kapur antara Kecamatan Batee dan Muara Tiga, Pidie, sekira 20-an kilometer ke arah utara dari jalan negara Banda Aceh-Sigli kawasan Simpang Beutong.

Keunikan di dalam Guha Toejoh sendiri, di sana terdapat batu yang merupai lembu, batu yang menyerupai profil hidangan ketan dan cadas yang menyerupai tempat tidur pengantin serta sebuah bongkahan karang yang mirip dengan sebuah batu besar yang letaknya seakan-akan tergantung mengasing dari tanah tanpa ada ikatan, disebut bate megantung (batu yang tergantung).

Konon, Guha Toejoh ini ditabalkan namanya, karena di kedalaman goa utama, di sana terdapat tujuh ruangan yang di masing-masih dindingnya hingga kini masih terdapat coretan-coretan lama yang merupakan tanda-tanda dan catatan yang diyakini memiliki makna tertentu. Mungkin itu ukiran tulisan tangan yang ditinggal oleh para pencari kearifan makrifat yang pernah bertapa di dalam goa ini.

Bahkan, konon lewat salah satu lorong yang ada di goa ini, ada aulia di Aceh yang bisa pergi hingga tembus ke Mekah guna menunaikan ibadah haji. Sehingga tak mengherankan, goa ini sangat "keramat" bagi orang-orang yang ingin mendalamkan ilmu keagamaan.

Goa Seumantong

Goa ini terletak di desa Lambaro Biluy Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Berjarak hanya 1 jam dari kota Banda Aceh dengan menggunakan sepeda motor dan berjalan kaki kita bisa sampai ke mulut goa yang belum pernah tersentuh oleh manusia ini.

Ornamen-ornamen yang beragam dan lorong-lorong yang sempit membuat goa ini susah untuk ditelusuri. Goa dengan panjang 3 km ini memiliki aliran air yang sekarang sudah mulai mengering. Di Aceh Besar ada juga goa Harimau.

Selain goa-goa tersebut, di sejumlah daerah kabupaten/kota di Aceh juga masih terdapat banyak goa, seperti Goa Pintu Kuari di Kampung Selamat di Kabupaten Aceh Tamiang, Goa Cot Mancong di Aceh Barat Daya (Abdya). Di Simelue terdapat Goa Air Pinang dengan luas 500 Ha, Goa Anao dan Goa Sembilan. Di Nagan Raya terdapat Goa Naga dan Goa Temiga, serta di Sabang terdapat Goa Lueng Angen.

Berbagai potensi wisata goa ini merupakan, anugrah ciptaan sang pencipta yang maha kaya. Tinggal kita sebagai manusia untuk bisa memaksimalkan menjadi potensi yang menjanjikan. Sehingga bukan saja bermanfaat bagi peningkatan perekonomian masyarakat sekitar, namun bisa juga menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD).*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar