Translate

Tampilkan postingan dengan label MADE IN INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MADE IN INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 April 2013

Pabrik Tekstil Sukoharjo Produksi Seragam Tentara Anti Peluru NATO & AS

Foto: Pabrik Tekstil Sukoharjo Produksi Seragam Tentara Anti Peluru NATO & AS

@Ihsan

Jakarta - Perusahaan tekstil PT Sri Rejeki Isman (Sritex) milik pengusaha HM Lukminto tak hanya memproduksi merek-merek pakaian terkenal di dunia seperti Zara atau Timberland. Mereka juga banyak menerima pesanan untuk pembuatan seragam militer banyak negara.

"Sritex juga membuat pakaian anti peluru untuk 30 army di selurun dunia, sampai seragam militer anti nyamuk dan anti peluru, bahkan anti radiasi. Seragam sehari-hari dibuat juga," kata Juru Bicara Sritex Ai Syarif kepada detikFinance, Jumat (8/3/2013)

Ia menuturkan produk tekstil Sritex telah diakui memenuhi standar North Atlantic Treaty Organization (NATO) sehingga dipercaya memproduksi seragam militer anggota NATO. Beberapa produk terkait keperluan militer antara lain seragam tempur, jaket, cover all, rompi, tenda, sepatu dan lain-lain.

Sritex telah dipercaya untuk memasok seragam militer dari 30 negara di dunia seperti Amerika, Rusia, Jerman, Inggris, Australia, Swedia, Belanda, Indonesia, Norwegia, Kwait, Saudi Arabia, dan lain-lain.

"Sudah 30 negara pakai produk seragam militer Sritex, TNI pakai juga pasti," katanya.

Seperti diketahui PT Sri Rejeki Isman (Sritex) didirikan oleh pengusaha HM. Lukminto, kisah suksesnya berawal dari pedagang kecil-kecilan di Pasar Kelewer, Solo, Jawa Tengah. Pabrik yang diresmikan pada 3 Maret 1992 oleh Presiden Soeharto.


(hen/dnl)Jakarta - Perusahaan tekstil PT Sri Rejeki Isman (Sritex) milik pengusaha HM Lukminto tak hanya memproduksi merek-merek pakaian terkenal di dunia seperti Zara atau Timberland. Mereka juga banyak menerima pesanan untuk pembuatan seragam militer banyak negara.

"Sritex juga membuat pakaian anti peluru untuk 30 army di selurun dunia, sampai seragam militer anti nyamuk dan anti peluru, bahkan anti radiasi. Seragam sehari-hari dibuat juga," kata Juru Bicara Sritex Ai Syarif kepada detikFinance, Jumat (8/3/2013)

Ia menuturkan produk tekstil Sritex telah diakui memenuhi standar North Atlantic Treaty Organization (NATO) sehingga dipercaya memproduksi seragam militer anggota NATO. Beberapa produk terkait keperluan militer antara lain seragam tempur, jaket, cover all, rompi, tenda, sepatu dan lain-lain.

Sritex telah dipercaya untuk memasok seragam militer dari 30 negara di dunia seperti Amerika, Rusia, Jerman, Inggris, Australia, Swedia, Belanda, Indonesia, Norwegia, Kwait, Saudi Arabia, dan lain-lain.

"Sudah 30 negara pakai produk seragam militer Sritex, TNI pakai juga pasti," katanya.

Seperti diketahui PT Sri Rejeki Isman (Sritex) didirikan oleh pengusaha HM. Lukminto, kisah suksesnya berawal dari pedagang kecil-kecilan di Pasar Kelewer, Solo, Jawa Tengah. Pabrik yang diresmikan pada 3 Maret 1992 oleh Presiden Soeharto.



Ssst...George Bush Pernah Pakai Sepatu New Balance Made in Indonesia

Foto: Ssst...George Bush Pernah Pakai Sepatu New Balance Made in Indonesia

@Ihsan

pabrik New Balance, PT Panarub Dwikarya, Tangerang
Jakarta - Produk buatan Indonesia sudah banyak dipakai oleh tokoh-tokoh terkenal dunia. Salah satunya Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) George Bush, pernah memakai sepatu merek New Balance buatan Indonesia.

"Saya pikir hampir semua pernah memakai sepatu buatan Indonesia. Contohnya seperti George Bush lah misalnya, dia pernah pakai New Balance buatan Indonesia juga," ungkap Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko kepada detikFinance, Jumat (8/3/2013).

Dikatakan Eddy, merek New Balance memang tidak memiliki pabrik sendiri di Indonesia. Namun, pabrik sepatu lokal yang berbasis di Tangerang memiliki lisensi untuk memproduksi sepatu New Balance tersebut.

"Mereka tidak punya pabrik, hanya diproduksi di pabrik-pabrik di Indonesia. Mereka dapat lisensi, bikin, kalau sudah jadi dikirim lagi ke si pemilik merek," jelasnya.

Selain New Balance, Eddy juga menambahkan, produsen sepatu lokal dalam negeri pun memiliki lisensi untuk membuat sepatu kelas dunia seperti Dolce & Gabana, Geox, juga tak ketinggalan sepatu-sepatu sport seperti Adidas, Nike, dan lainnya.

Eddy mengatakan, sudah merupakan hal yang lumrah bagi tokoh-tokoh terkenal untuk memakai sepatu buatan Indonesia. Alasannya sudah banyak perusahaan produsen sepatu Indonesia yang berorientasi ekspor.

"Artinya memang sudah biasa artis-artis itu memakai merek-merek yang diproduksi di Indonesia, sudah banyak. Jadi sayang, kita punya daya saing kalau tidak dijaga," tuntasnya.

Sebelumnya, Eddy pernah mengungkapkan, sejak tahun 1992 atlet-atlet dunia khususnya Eropa memakai sepatu buatan Tangerang. "Itu sebenarnya sudah sejak 20 tahun lalu, tapi kita nggak ekspos ke permukaan saja, itu urusannya perusahaan untuk ekspos atau nggak, bukan urusan kita," ungkap Eddy beberapa waktu lalu.

Eddy mencontohkan perusahaan sepatu merek Adidas dan Nike dan sepatu olahraga lainnya banyak diproduksi di Tangerang, Banten. Sepatu buatan Tangerang ini memiliki kualitas yang tak kalah dengan negara produsen sepatu lainnya.

Salah satu produsennya adalah PT Panarub Dwikarya berdiri pada tahun 2006 yang memulai produksi pada Juli 2007 dengan memproduksi sepatu merek Specs, kemudian pada tahun 2009 mulai memproduksi dari order produksi dari prinsipal merek sepatu Mizuno dan New Balance.

New Balance merupakan merek sepatu asal AS, yang saat ini sebagian produksinya lebih banyak di China. Panurub berencana akan menambah produksi sepatu New Balance. New Balance mulai diproduksi pada bulan Juni 2009 dengan kapasitas 50.000 pasang per bulan, dimana Panarub telah mengekspor sepatu merek New Balance sebanyak 1 juta pasang.



(zul/hen)
Pabrik New Balance, PT Panarub Dwikarya, Tangerang.
Jakarta - Produk buatan Indonesia sudah banyak dipakai oleh tokoh-tokoh terkenal dunia. Salah satunya Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) George Bush, pernah memakai sepatu merek New Balance buatan Indonesia.

"Saya pikir hampir semua pernah memakai sepatu buatan Indonesia. Contohnya seperti George Bush lah misalnya, dia pernah pakai New Balance buatan Indonesia juga," ungkap Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko kepada detikFinance, Jumat (8/3/2013).

Dikatakan Eddy, merek New Balance memang tidak memiliki pabrik sendiri di Indonesia. Namun, pabrik sepatu lokal yang berbasis di Tangerang memiliki lisensi untuk memproduksi sepatu New Balance tersebut.

"Mereka tidak punya pabrik, hanya diproduksi di pabrik-pabrik di Indonesia. Mereka dapat lisensi, bikin, kalau sudah jadi dikirim lagi ke si pemilik merek," jelasnya.

Selain New Balance, Eddy juga menambahkan, produsen sepatu lokal dalam negeri pun memiliki lisensi untuk membuat sepatu kelas dunia seperti Dolce & Gabana, Geox, juga tak ketinggalan sepatu-sepatu sport seperti Adidas, Nike, dan lainnya.

Eddy mengatakan, sudah merupakan hal yang lumrah bagi tokoh-tokoh terkenal untuk memakai sepatu buatan Indonesia. Alasannya sudah banyak perusahaan produsen sepatu Indonesia yang berorientasi ekspor.

"Artinya memang sudah biasa artis-artis itu memakai merek-merek yang diproduksi di Indonesia, sudah banyak. Jadi sayang, kita punya daya saing kalau tidak dijaga," tuntasnya.

Sebelumnya, Eddy pernah mengungkapkan, sejak tahun 1992 atlet-atlet dunia khususnya Eropa memakai sepatu buatan Tangerang. "Itu sebenarnya sudah sejak 20 tahun lalu, tapi kita nggak ekspos ke permukaan saja, itu urusannya perusahaan untuk ekspos atau nggak, bukan urusan kita," ungkap Eddy beberapa waktu lalu.

Eddy mencontohkan perusahaan sepatu merek Adidas dan Nike dan sepatu olahraga lainnya banyak diproduksi di Tangerang, Banten. Sepatu buatan Tangerang ini memiliki kualitas yang tak kalah dengan negara produsen sepatu lainnya.

Salah satu produsennya adalah PT Panarub Dwikarya berdiri pada tahun 2006 yang memulai produksi pada Juli 2007 dengan memproduksi sepatu merek Specs, kemudian pada tahun 2009 mulai memproduksi dari order produksi dari prinsipal merek sepatu Mizuno dan New Balance.

New Balance merupakan merek sepatu asal AS, yang saat ini sebagian produksinya lebih banyak di China. Panurub berencana akan menambah produksi sepatu New Balance. New Balance mulai diproduksi pada bulan Juni 2009 dengan kapasitas 50.000 pasang per bulan, dimana Panarub telah mengekspor sepatu merek New Balance sebanyak 1 juta pasang.

Soal Bikin Pesawat, Indonesia Masih di Atas China

Jakarta - China boleh bangga bisa produksi pesawat MA 60 yang saat ini digunakan Merpati Nusantara Airlines, namun soal kualitas pesawat Indonesia masih jauh di atas China.

Seperti kata Ilham A. Habibie, anak sulung mantan Presiden RI BJ Habibie mengatakan soal membuat pesawat dan kualitas pesawat itu sendiri, Indonesia masih di atas China.

"Soal buat pesawat kita masih lebih bagus dan jauh di atas China, dari segi kualitas kita masih oke," kata Ilham ketika ditemui detikFinance pekan lalu di kantornya di Kawasan Mega Kuningan, seperti dikutip, Senin (18/3/2013).

Kata Ilham, saat ini China boleh bangga punya MA 60 yang saat ini digunakan Merpati.

"Tapi pada dasarnya desain MA 60 itu mesinnya memang digunakan untuk militer, namun karena digunakan untuk sipil mereka menurunkan sedikit kualitasnya, karena dasarnya untuk militer sehingga boros, militerkan ngak mikirin boros apa tidak yang penting tahan banting dan menang perang," ucapnya.

MA 60 sendiri kata Ilham diakui sendiri oleh Dirut Merpati Rudy Setyopurnomo kalau pesawat tersebut sangat boros.

"Ya saya pernah diskusi dengan Dirut Merpati Pak Rudy, pesawat itu boros, kalau sudah boros bahan bakar bagaimana mau bisa dapat money (uang). Lagi pula MA 60 dipakai bukan karena kualitas, tetapi karena Merpati saat itu kesulitan pendanaan dan tidak bisa pinjam ke bank, tapi China mau meminjamkan dana untuk membeli MA 60 buatan mereka," ungkapnya.

Lantas dari segi mana kita masih teratas dibandingkan China dari segi kualitas pesawat?

"Ya R80 (Regio Prop 80) yang saat ini sedang kita selesaikan proses pembangunannya, kita akan memiliki pesawat dengan menggunakan baling-baling, yang didesain untuk jarak dekat, hemat bahan bakar, teknologi terbaru, kapasitas lebih banyak yakni mencapai 80 kursi, mesin lebih cepat dan yang terpenting jauh lebih murah dari pesawat ATR karena produksi dan suku cadang dibuat semua di Indonesia, dan yang lebih penting lagi kita punya Sumber Daya Manusia yang berpengalaman bahkan seperti di Boeing, Airbus, ATR, di PT DI dan banyak lagi," tandasnya.

Seperti diketahui Ilham bersama Mantan Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Erry Firmansyah bersama-sama membentuk PT Ragio Aviasi Industri (RAI) untuk membangun pesawat new N-250 yang dulu pernah dibuat BJ Habibie.

Pesawat berkapasitas 80 kursi tersebut diberi nama R80 atau Regio Prop 80 diamana pesawat tersebut menggunakan baling-baling.